Cari
  • ycmmentawai

Mendorong pemuda adat gunakan video usung masalah lingkungan

Berbekalkan perangkat sederhana, pemuda adat Mentawai belajar membangun konsep, menulis naskah, dan mengambil gambar, berbagi cerita tentang hidup dan lingkungan mereka.


Roberto Bagio Sagari mempresentasikan video hasil praktik pembuatan film dokumenter saat pelatihan kepada peserta lain.

Oleh Gerson Merari Saleleubaja

Baju Sulaiman Siritoitet basah ketika dia turun dari pompong (perahu kayu bermesin kecil) di Muara Siberut, ibukota kecamatan Siberut Selatan, Pulau Mentawai, setelah lima jam menyusuri sungai Sarereiket dari DesaMatotonan di pedalaman.


Ketiadaan jalan beraspal di pedalaman Siberut Selatan, menjadikan pompon alat transportasi utama warga pedalaman, termasuk di desa-desa di wilayah hulu Sarereiket, seperti Matotonan dan Madobag.


Sulaiman Siritoitet (34) merupakan salah satu dari 12 peserta pelatihan pembuatan video untuk masyarakat adat Mentawai yang diselenggarakan selama tiga hari, pada tanggal 26-28 Mei 2021, oleh Yayasan Citra Mandiri Mentawai dengan dukungan Internews melalui Proyek Earth Journalist Network (EJN) di Asia Pasifik. Pelatihan diselenggarakan di Sanggar Uma Jaraik Sikerei di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, tak jauh dari ibukecamatan.


Sulaiman, seperti beberapa peserta lainnya dari desa Madobag — Roberto Siritoitet, Martinus Marisaen, Martinus Neko Kunen dan Lian Rizal — tiba di Muntei sehari lebih cepat agar tidak terlambat mengikuti jadwal kegiatan.


Peserta lain yang tiba pada hari yang sama adalah Kosnadi Samaura (26), Ahmadi Sadodolu, dan Norbertus Orly serta Klementina Ika Tasiripoula (20), satu-satunya peserta perempuan. Walaupun mereka masih berasal dari Desa Muntei, perjalanan mereka dengan motor dari Dusun Salappak, di hulu Sungai Silaoinan menghabiskan waktu tiga jam karena kondisi jalan tanah licin setelah diguyur hujan.


Pelatihan ini merupakan yang kedua dari lima seri pelatihan yang akan digelar, termasuk satu seri pelatihan khusus untuk perempuan adat, bertujuan memberikan keterampilan teknis pembuatan video dokumenter dan mengasah kepekaan masyarakat adat di Mentawai terhadap persoalan-persoalan lingkungan yang sering mereka hadapi, terutama dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelaksanaan kearifan lokal.

Mereka diharapkan menjadi jurnalis warga yang aktif mengabarkan tentang daerahnya terutama isu lingkungan.
YUAFRIZA, PROJEK MANAGER, YAYASAN CITRA MANDIRI MENTAWAI

Para peserta dilatih mengambil gambar dengan benar, mewawancarai narasumber dan teknik editing film sehingga dapat menghasilkan film bermutu dan enak ditonton. Selain teori, pelatihan juga mencakup praktek lapangan.


Untuk mengasah kepekaan, peserta dilatih mengindenfikasi isu-isu atau persoalan lingkungan yang sering dihadapi oleh orang Mentawai, serta menuangkannya ke dalam bentuk skrip film yang kemudian akan dikerjakan mereka di kampungnya masing-masing.

Aidil Ichlas (kiri) memberikanmasukan pada video yang dihasilkan oleh Roberto Siritoitet (kanan) Setelah sesi praktek.

Semua peserta merupakan anak muda warga komunitas adat dari sejumlah kampung di Siberut Selatan. Mereka yang direkrut adalah yang bersedia dan secara sukarela menjadi pewarta lingkungan dan masyarakat adat dan bisa mengoperasikan smartphone. Mereka bermukim di kampung dan sangat dekat dengan persoalan-persoalan yang dialami masyarakat sekitarnya.


Pengakuan wilayah dan masyarakat adat


Yuafriza, yang lebih akrab dipanggil Ocha, berpendapat isu lingkungan yang paling mencolok di daerah Siberut selain banjir dan kerusakan sumber daya alam akibat eksploitasi perusahaan, adalah perjuangan masyarakat adat untuk mendapatkan pengakuan atas wilayah adatnya. Sumber kehidupan Orang Mentawai, terutama di Siberut, sangat tergantung pada tanah adat.


Selagi status kepemilikan wilayah adat tersebut belum secara hukum diakui negara maka selama itu juga hak kepemilikan masyarakat adat di Mentawai akan rentan terhadap berbagai izin eksploitasi yang kebanyakanbersumber dari pemerintah pusat.


Hal ini menyebabkan wilayah hidup dan kelola warga Mentawai makin menyempit. Hutan dan lahan yang ada di Mentawai sebagian besar berstatus hutan negara dan sebagian besar sudah terbebani izin.


Persoalan lainnya adalah banjir yang datang setiap kali hujan deras, termasuk di Matotonan, daerah asal Sulaiman yang berada di bagian hulu sungai Sarereiket.


Selain banjir, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) energi bambu juga turut menjadi perhatian bagi Sulaiman. Terdapat kekhawatiran bahwa keberadaan PLTBm yang menghasilkan energi terbarukan ramah lingkungan, mungkin akan mendorong alih fungsi lahan pertanian pangan warga menjadi perkebunan bambu.


Sulaiman yang sudah memproduksi beberapa konten video untuk kanal Youtube miliknya sendiri, merasa pelatihan film dokumenter ini sangat membantu dirinya membuat konten video yang lebih bermutu. Video yang dibuatnya selama ini memang belum terkonsep dengan baik sehingga kurang efektif menyampaikan pesan yang diinginkan.


“Pelatihan ini sangat menarik dan memperluas pengetahuan, saya belajar bagaimana cara mengambil gambar, bagaimana membuat script dan bagaimana cara mengedit, saya sangat berterimakasih pada YCMM,” katanya.


Dengan berbekal pelatihan ini Sulaiman berencana mengangkat potensi keuntungan sekaligus ancaman dari keberadaanPLTBm di kampungnya. Ia ingin mengajak semua pihak untuk sama-sama mengontrol pelaksanaan pembangunan agar tidak membawa kerugian baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi warga.


Masyarakat, lingkungan, dan budaya


Berbeda dengan Sulaiman, Kosnadi Samaurau, berencana mengangkat kesulitan masyarakat di kampungnya, Dusun Salappak, dalam mengangkut hasil bumi mereka ke pusat ekonomi. Kesulitan akses ini merupakan isu lama yang belum terselesaikan hingga kini karena minimnya infrastruktur.


Kosnadi juga berencana mengangkat soal banjir yang selalu melanda kampungnya saat musim penghujan. “Persoalan banjir sampai saat ini tak terselesaikan sehingga dampaknya warga selalu mengalami kerugian karena perladangan yang menjadi tumpuan ekonomi dan sumber pangan mereka ikut rusak karena banjir,” katanya.


Pelatihan kali ini juga diikuti seorang Youtuber yang sudah memiliki 73 ribu subscribers, Teofilus Samemek yang tinggal di Muntei, Siberut Selatan. Pria 24 tahun ini sudah mengunggah 390 video tentang masyarakat Mentawai di kanal Youtubenya – Theo mentawai. Namun diakuinya video-videonya masih banyak kelemahan terutama di sisi kekuatan konten dan pencahayaan.

Saya sudah banyak memproduksi video, ada banyak kekurangan terutama lighting (pencahayaan), ada banyak video saya yang hasilnya yang saya tidak puas, dengan pelatihan ini membuat saya termotivasi kembali.
TEOFILUS SAMEMEK, PEMUDA ADAT MENTAWAI

Theo bahkan mengajukan diri sebagai peserta saat diberitahu YCMM akan mengadakan pelatihan pembuatan konten video. Dia ingin memperkuat konsep sehingga video yang diproduksinya memiliki pesan yang kuat.


Setelah pelatihan ini, Theo akan terus membuat video tentang masyarakat dan kondisi lingkungan di sekitarnya dengan pesan yang lebih kuat sehingga dapat mempengaruhi publik, misalnya tentang kisah sulitnya sikerei mencari tanaman obat karena hutan-hutannya sudah dibabat.

Klementina Ika Tasiripoula, mempresetntasikan video yang dihasilkan setelah sesi praktek dalam pelatihan.

Klementina Ika Tasiripoula, satu-satunya peserta perempuan mengaku semangat dan senang ikut pelatihan meskipun semua pengetahuan yang diberikan dalam pelatihan itu masih baru baginya.

“Saya senang walaupun semuanya baru bagi saya terutama soal editing, saya harus banyak belajar lagi,” katanya.

Usai pelatihan, Klementina berencana akan mempromosikan cerita perempuan Mentawai terutama dalam mempertahankan budaya lokalnya, misalnya mempromosikan pangan lokal Mentawai.

Sementara Aidil Ichlas yang menjadi pelatih, mengatakan, selain memberi pengetahuan teknis tentang video jurnalistik dan dokumenter, teknis pengambilan gambar hingga editing, para peserta juga dilatih kepekaannya agar memiliki empati terhadap persoalan-persoalan yang dialami masyarakat adat dan persoalan kerusakan lingkungan.

“Karena para peserta ini akan menjadi jurnalis warga yang akan mengabarkan kondisi lingkungan di sekitar mereka maka kita coba menggali empati atau kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar sehingga konten yang mereka produksi memiliki perspektif lingkungan dan memiliki sisi humanis,” kata Aidil yang bekerja untuk Beritasatu TV ini.

Aidil mengapresiasi semangat peserta karena datang jauh-jauh dari berbagai pelosok Siberut untuk mengikuti pelatihan meskipun beberapa orang masih memiliki perangkat kamera video yang sederhana. “Mereka antusias meski ada perangkatnya yang sederhana, mereka semua tetap semangat karena mungkin ilmu ini baru bagi mereka,” katanya menambahkan.


12 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua