Cari
  • ycmmentawai

Kabarkan Kondisi Mentawai, Jurnalis Mentawai Dilatih Membuat Konten Video


Wahyu Mulyono, Trainer Pelatihan Training for Indigenous Journalist sedang memberikan materi kepada peserta. (Foto: Rus Akbar/Mentawaikita.com)

PADANG--Yayasan Citra Mandiri (YCM) Mentawai dengan dukungan Earth Journalism Network (EJN) menyelenggarakan Training for Indigenous Journalist untuk 12 jurnalis adat di Kabupaten Kepulauan Mentawai pada 4 -6 Maret 2021 lalu di Kota Padang Provinsi Sumatra Barat.


Pelatihan diselenggarakan untuk meningkatkan kapasitas jurnalis adat membuat berita serta story telling melalui dukungan video tentang ancaman lingkungan terhadap alam dan masyarakat adat Mentawai.


Direktur YCM Mentawai, Rifai mengatakan, masyarakat adat Mentawai yang mendiami Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki cara hidup sendiri dari masyarakat Indonesia lainnya. Mereka hidup dan memenuhi kehidupannya sesuai dengan kearifan lokal yang mereka ketahui, pengetahuan itu diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi.


Hidup yang bersahaja menurut nilai-nilai lokal yang dianut menyebabkan mereka kadang dianggap primitif. Hal ini menyebabkan banyak kebijakan pemerintah terutama bersumber dari pemerintah pusat sering bertabrakan dengan kebiasaan hidup orang Mentawai.

Melalui kebijakan pemerintah yang katanya untuk memajukan masyarakat Mentawai dan meningkatkan perekonomian mereka justru yang terjadi sumber daya alam Mentawai dirampas.


Dalam dua puluh tahun terakhir, hutan dan sumber daya alam Mentawai semakin terancam karena banyak izin konsesi yang dikeluarkan oleh Pemerintah pusat seperti izin perkebunan kelapa sawit, izin eksploitasi hutan dan izin hutan tanaman industri. Akibat konsesi tersebut menyebabkan kerusakan lingkungan yang memicu tanah longsor, banjir dan penumpukan air yang menyebabkan penyakit, kekurangan makanan karena lingkungan yang menghilang.


Pemberian izin tersebut bukan tak ada perlawanan dari masyarakat adat Mentawai sebagai pemilik tanah, namun tak banyak media yang meliput dan mengabarkan perjuangan mereka kepada masyarakat umum, kecuali media lokal Mentawai yang dikelola Yayasan Citra Mandiri (YCM) Mentawai yang bernama MentawaiKita.com, yang berbasis berita tulisan.


“Masyarakat Mentawai dan lingkungannya sudah terlalu lama dilupakan oleh para pembuat kebijakan di Indonesia tetapi juga oleh dunia usaha. Untuk menyuarakan masyarakat Mentawai dan meliput berita lingkungan dan iklim, YCM telah membuat radio komunitas dan surat kabar yang baru-baru ini menjadi platform berita online MentawaiKita.com. yang memiliki sekitar 60 ribu penayangan per bulan, yang cukup banyak mengingat jumlah penduduk Mentawai dan akses mereka ke internet,” kata Rifai saat acara.


Namun akses ini makin meningkat dan kaum muda mendapatkan akses ke ponsel, orang ingin mengakses berita online, dan video adalah salah satu media yang hilang sepenuhnya untuk liputan Mentawai, kata Rifai.


Menurut dia, video merupakan media yang ampuh untuk menceritakan sebuah cerita baik itu berita atau cerita, terutama saat bercerita tentang kerusakan lingkungan.

Program yang didukung EJN ini tidak hanya melatih para jurnalis di MentawaiKita.com yang bisa membuat berita dan bercerita dengan dukungan video, namun masyarakat adat dan perempuan adat juga akan belajar melaporkan kerusakan lingkungan dengan ponselnya.

“Setelah melatih jurnalis, kita juga akan membuat dua seri pelatihan untuk masyarakat adat dan satu seri pelatihan untuk perempuan adat,” katanya.


Wahyu Mulyono, trainer Training for Indigenous Journalist dari Rekam Nusantara dalam pelatihan Training for Indigenous Journalist, mengatakan saat ini di era digital, pemanfaatan platform yang berbasis visual-audio sangat penting dan lebih mudah menjangkau audiens. Bagi para jurnalis, dengan mereka menguasai cara membuat konten video yang menarik, sejatinya akan memudahkan mereka untuk menyampaikan pesan tidak hanya melalui tulisan, tapi juga bertutur melalui visual yang lebih mudah dicerna oleh audiens. Beragam cara bisa dilakukan dalam menyampaikan pesan visual-audio ini, melalui variasi konten yang sangat banyak dan bisa menyesuaikan dengan target audiens kita.


“Dengan latar belakang mereka sebagai jurnalis, ini menjadi sebuah keunggulan dan nilai tambah dimana mereka sudah terbiasa menggali cerita dengan baik dan menyampaikannya, hanya kini melalui media yang berbeda untuk menuturkan apa yang mereka liput di lapangan,” kata Wahyu usai pelatihan.


Materi yang diajarkan oleh Wahyu dalam pelatihan secara garis besar adalah memahami bahwa mereka bisa menyampaikan realita dengan memasukkan konsep kreatif di dalamnya. Sehingga karya yang dibuat bukan hanya memberikan edukasi tetapi juga menghibur. Sebab unsur hiburan atau entertaint menjadi pemikat bagi penonton untuk ikut serta mendalami isu yang sedang kita sampaikan.


“Jika ini dikemas dengan baik, maka pesan yang kita sampaikan melalui media visual-audio bisa tersampaikan dengan baik dan mendapatkan respon yang kita inginkan,” ujarnya.

Peserta juga diajarkan bertutur menggunakan visual, visual bisa bercerita lebih banyak dengan mengetahui dasar-dasar sinematografi yang membuat cerita akan lebih mengalir dan enak dinikmati.


Peserta juga diajak untuk menggali ide, dengan khas dokumenter untuk bisa menyampaikan pesan-pesan mereka.

Demikian pula dengan filosofi dasar editing yang diharapkan akan memperkaya pengetahuan mereka dimana sebagian besar telah memiliki pengalaman membuat video.

Yang tak ketinggalan adalah bagaimana juga teknik wawancara yang baik serta blocking kamera sehingga narasumber menjadi lebih nyaman dan gambar juga lebih baik.

Dari praktik pembuatan video yang dilakukan peserta menurut Wahyu, kualitas hasil video mereka bervariasi. Ada yang sudah baik dan ada yang masih bisa dikembangkan. Namun secara keseluruhan terlihat bahwa peserta telah memahami konsep bagaimana bertutur dengan kamera.


“Untuk ToR liputan demikian pula. Ada yang sudah baik namun tetap perlu diskusi dan penajaman lebih dalam agar pesan yang ingin disampaikan pada film jelas, tidak berbelit dan mudah dicerna,” kata dia.

Diluar itu semua, kata Wahyu membuat sebuah karya visual-audio atau film memiliki proses latihan yang panjang. Sehingga perlu terus dilakukan latihan oleh peserta untuk membuat konten yang akan menajamkan karya-karya mereka nanti dan membuatnya menjadi semakin baik lagi.


Kesulitan peserta menurut Wahyu adalah bagaimana mereka memindahkan bahasa tulisan ke visual. Namun ini wajar mengingat semuanya adalah proses. “Dari hasil pelatihan yang singkat justru bisa dilihat mereka kini lebih memahami bagaimana konsep bertutur secara visual,” katanya.


Pelatihan pembuatan film dokumenter tersebut disambut antusias oleh peserta, misalnya Bambang Sagurung, salah seorang peserta yang berasal dari Sikabaluan, Siberut Utara, Mentawai, mengatakan dirinya belum pernah mengikuti pelatihan untuk membuat video, baik itu video jurnalistik maupun dokumenter.


Pelatihan ini, menurut Bambang memberi banyak pengalaman baru. “Misalnya bagaimana awal yang menarik untuk memulai suatu video atau film dokumenter, apa yang harus dipersiapkan dalam membuat sebuah video, bentuk pengambilan gambar dan penyusunannya dari yang medium ke close-up agar gambar lebih menarik serta pengaturan posisi kamera saat melakukan wawancara dengan narasumber,” kata Bambang.


Menurutnya pelatihan ini perlu dilanjutkan dengan memberikan teknik editing video sebab untuk editing ini sangat penting untuk memaksimalkan hasil video yang akan dibuat. Dari gaya pelatihan yang diberikan cukup menarik dan mengundang antusias karena pemateri memberikan praktek di sela-sela teori.


Bambang menyebutkan hasil pelatihan ini sangat membantu dan bermanfaat dalam dalam melakukan liputan ke depan. Karena selama ini banyak hal menarik dan bahkan yang diliput untuk media online yang tidak kalah menarik untuk dibuatkan dalam berita bentuk video.

“Sangat disayangkan daerah liputan seperti Mentawai yang kaya akan informasi seperti budaya, alam, masyarakat adatnya, pendidikan kalau hanya dituangkan dalam bentuk liputan tertulis. Dalam penyajian berita dalam bentuk video jurnalistik dalam perkembangan teknologi saat ini penting untuk disajikan,” ujarnya.


Rinald Suryadinata, peserta yang bekerja untuk Radio Sura Mentawai FM menyebutkan, dirinya sudah pernah mengikuti pelatihan pembuatan video, namun pelatihan kali ini memberikan pengetahuan baru seperti istilah-istilah dalam pembuatan film dan teknik pembuatan sequence film yang menarik.


“Saya senang dan pelatihan ini sangat bermanfaat,” kata Rinald.

4 tampilan0 komentar

TENTANG KAMI

Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCM-M) merupakan kumpulan individu-individu yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, budaya, pendidikan, pengalaman dan keahlian yang berbeda, namun memiliki kepedulian dan keprihatinan yang sama terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat adat Mentawai, serta memiliki kemauan yang kuat untuk berkarya bersama-sama dengan masyarakat adat Mentawai.

KONTAK

T: +62 (0751) 35528

E: ycmm@ycmmentawai.org

PADANG

YAYASAN CITRA MANDIRI MENTAWAI

Jl. Gng Semeru IV No 3

Kel.Gunung Pangilun, Kec. Padang Utara 

Padang 25137

TUA PEJAT

UMA YCMM

Raya Mapaddegat KM 4

Tuapeijat Mentawai

SEKRETARIAT YCMM

Jln Raya Tuapeijat KM 0

Tuapeijat Mentawai

ALAMAT RADIO

Sura' Mentawai

Jln Raya Tuapeijat KM 7

Kabupaten Keb Mentawai

© 2018 by Yayasan Citra Mandiri Mentawai. Design by Sustainable Vagabonds

MITRA